Aksiologi : Nilai Kegunaan Ilmu dan Moral

FILSAFAT ILMU
BAB VI

Profesor Acc Partadiredjo selaku guru besar ilmu ekonomi di Universitas Gajah Mada mengatakan bahwa peradaban manusia sangat berhutang pada ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini maka pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah. Ilmu bukan saja digunakan untuk memerangi sesama manusia dan munguasai mereka. Manusia harus menyesuaikan diri dengan teknologi dan teknologi tidak lagi berfungsi sebagai sarana yang memberikan fungsi sebagai sarana yang memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia, melainkan dia berada untuk tujuan eksitensinya sendiri.

hubble-dying-star-eskimo-nebula

hubble dying star eskimo nebula

Ilmu bukan lagi bukan lagi sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya namun bahkan kemungkinan mengubah hakekat kemanusiaan itu sendiri. Ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri sebenarnya sejak pertumbuhan ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda Copernicus (1473 – 1543) mengajukan teori tentang kesemestaan alam “bumi” yang berputar mengelilingi matahari.

Secara metafisika ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan dipihak lain, terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan antara lain agama. Para ilmu berjuang untuk menegakkan ilmu berdasarkan penafsiran alam sebagaimana adanya dengan sumbernya yaitu “Ilmu yang Bebas Nilai”.

Setelah pertarungan 250 tahun para ilmuan mendapat kemenangan. Konflik bukan hanya terjadi dalam ilmu-ilmu alam saja tapi juga cabang-cabang ilmu lain diantaranya lmu sosial dimana berbagai idiologi mencoba mempengaruhi metafisik keilmuan. Mendapat otonomi yang terbebas dari segenap nilai yang bersifat dogmatik ini maka dengan leluasa ilmu dapat mengembangkan dirinya.

Konsep ilmiah yang bersifat abstrak menjelma dalam bentuk kongkrit yang berupa teknologi. Ilmu tidak saja bertujuan memperjelas gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman, namun lebih jauh lagi, memanipulasi fakta-fakta yang terkait dalam gejala tersebut untuk mengontrol dan mengarahkan proses yang telah terjadi. Contoh ilmu yang mengembangkan teknologi untuk mencegah banjir.

  • Bertrand Rusell perkembangan ini sebagai peralihan ilmu dari tahap “kontenplasi ke manipulasi”.
  • Kontenplasi masalah moral berkaitan dengan metafisika keilmuan.

Manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah.

Dalam tahap manipulasi masalah moral akan muncul yang berkaitan dengan metafisika keilmuan dengan penerapannya cara penggunaan pengetahuan ilmiah. Secara filsafat tahap “pengembangan konsep” ditinjau dari ontologi keilmuan, sedangkan “penerapan konsep” terdapat masalah moral ditinjau dari aksiologi keilmuan. Setiap pengetahuan ilmiah, memiliki tiga dasar yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi.

Ontologi : pengkajian objek membuahkan pengetahuan.

Epistimologi : cara mendapatkan ilmu pengetahuan (metode ilmiah).

Aksiologi : kegunaan ilmu pengetahuan.

Masalah teknologi sebenarnya lebih merupakan masalah kebudayaan daripada masalah moral. Para ilmuan terbagi menjadi dua pendapat mengenai masalah moral berkaitand dengan ilmu tegnologi ini. Golongan pertama berpendapat bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai. Sedangkan golongan kedua bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisika keilmuan dan penggunaannya harus berdasarkan asas moral.

20. Tanggung Jawab Sosial Ilmuan
Ilmu adalah hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Penciptaan ilmu bersifat individual namun komunikasi dan penggunaan ilmu bersifat sosial. Seorang ilmuan mempunyai tanggung jawab sosial karena dia mempunyai fungsi manfaat berkaitan keberlangsungan hidup bermasyarakat karena ilmu ciptaannya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.




Ruang lingkup yang menjadi tanggung jawab seorang ilmuan dapat ditinjau kembali dari hakekat ilmu itu sendiri. Ilmu itu netral dan para ilmuanlah yang memberi nilai. Apakah ilmu itu terikat atau bebas dari nilai tertentu, semua tergantung dari langkah-langkah keilmuan tersebut dan bukan proses keilmuan secara keseluruhan. Peranan ilmuan di masyarakat bersifat imperatif karena memiliki latar belakang keilmuan yang cukup. Oleh sebab itu dia mempunyai kewajiban sosial menyampaikan ke mayarakat.

Adanya masalah di masyarakat perlu dipecahkan, dan disinilah peranan seorang ilmuan tampil kedepan karena mempunyai kemampuan bertindak persuasif dan argumentatif berdasarkan pengetahuan yang dia miliki. Kemampuan analistik seorang ilmuwan menemukan alternatif objek permasalahan yang sedang menjadi pusat perhatian. Kemampuan analisis ilmuwan dapat dipergunakan untuk mengubah kegiatan nonproduktif menjadi kegiatan produktif yang bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Singkatnya dengan kemampuan sorang ilmuwan harus dapat menjelaskan dan mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogyanya mereka sadari. Cara penyempaiannya harus dengan bahasa yang dapat dicernakan oleh orang awam. Untuk itu dia tidak hanya mengandalkan kemampuan analistisnya namun juga intregitas kepribadiannya.

Karakteristik lain dari ilmu terletak dalam cara berpikir untuk menemukan kebenaran. Manusia dalam mencari kebenaran ternyata menempuh cara yang bermacam-macam sehinga menimbulkan “pemeo”. Pemeo adalah kepala sama berbulu namun pendapat berlain-lain.

Manusia dijuluki manusia Homo Sapiens yaitu makluk yang berfikir. Tapi tidak hanya itu saja, menurut Sigmund Freud berpendapat bahwa manusia itu bukan saja pandai membikin rasional tetapi juga pandai membikin rasionalisasi. Pikiran manusia tidak hanya dapat dipergunakan untuk menemukan dan mempertahankan kebenaran tetapi juga dapat menemukan dan mempertahankan hal-hal yang tidak benar. Dalih yang berbahaya adalah rasionalisasi yang sedemikian rupa secara sistematis dan meyakinkan. Dalih ini bisa memukau terutama didukung sarana kekuasaan. Misalnya para ilmuwan yang terbius oleh Hitler dengan persepsinya Jerman sebagai bangsa Aria dan kaum Yahudi sebagai pengotor kaum Aria. Keadaan ini tidak hanya berlaku di bidang politik saja tapi juga dibidang lain seperti mistik, ekonomi dan lain-lain.

Bagaimana para ilmuwan mensikapi cara berfikir keliru seperti ini? Seorang ilmuwan pada hakekatnya bisa berfikir secara teratur dan teliti. Bukan saja pola pikirnya nengalir melalui pola-pola yang teratur tetapi juga materi pemikirannya dikaji dengan teliti. Seorang ilmuwan tidak sertamerta menolak atau menerima sesuatu bekitu saja tanpa pengolahan pemikiran yang cermat. Di sinilah kelebihan seorang ilmuwan dibanding cara berpikir seorang awam.

Proses rasionalisasi didasarkan pada jalan pikir yang salah atau materi pemikiran yang tidak benar. Seorang awam kadang mempunyai asumsi tidak benar karena sepintas kelihatannya brilian dan masuk akal. Orang awam cenderung terpukau dan membenarkan anggapanya sendiri juga tidak mampu menganalisis kenyataan-kenyataan yang sebenarnya.

Proses menemukan kebenaran secara ilmiah mempunyai implikasi etis bagi seseorang ilmuwan. Dibidang etika tanggung jawab sosial seorang ilmuwan bukan lagi memberikan informasi namun memberikan contoh. Seorang ilmuan tampil di tengah masyarakat dengan bersifat obyektif, terbuka, menerima kritik, dan menerima pendapat orang lain. Pengetahuan yang dimilikinya merupakan kekuatan yang akan memberinya keberanian. Demikian juga dalam masyarakat yang sedang membangun maka dia harus bersikap sebagai seseorang pendidik dengan memberikan suri teladan.

Aspek etika dari hakekat keilmuan ini kurang mendapat perhatian baik dari para pendidik maupun para ilmuan itu sendiri. Kita mendidik anak-anak kita cerdas tanpa mempersiapkan dengan seksama kecerdasan yang bermoral dan bernilai luhur. Disamping itu pendidik juga harus memberikan kurikulum yang bertauladan dalam proses belajar.

21. Nuklir dan Pilihan Moral
Pada tanggal 02 Agustus 1939, Albert Einstein menulis surat kepada presiden Amerika Serikat Franklin. D. Roosevelt yang memberikan rekomendasi mengenai serangkaian kegiatan yang mengarah pada pembuatan bom atom. Apakah yang mendorong Einstein berkewajiban memberikan saran pada presiden AS tersebut untuk membuat bom atom? Apakah karena alasan dia anti Hitler? Enstein adalah penemu rumus E = MC2. Einstei dalam suratnya yang dikirimkan kepada presiden Rooselvelt secara eksplisit juga mengemukakan kekawatiran mengenai kemungkinan pembuatan bom atom oleh Nazi. Dan apabila sekiranya waktu itu Jerman tidak memperlihatkan tanda-tanda untuk membuat bom atom, apakah Einstein akan bersedia menulis surat tersebut?

Einstein dalam persoalan semacam ini sebagai seorang ilmuwan bersifat netral. Enstein berpihak pada kemanusiaan yang besar yang tidak mengenal batas geografis, sistem politik atau sistem kemasyarakatan lainnya.

Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang mempergunakan itu adalah bangsanya sendiri.




Baca ini?

Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

Comments are closed.

Blog Directory